Senin, 07 Februari 2011

KESALAHAN FATAL SEORANG MURID

Kesalahan fatal seorang murid adalah TAKUT SALAH!
kita takut salah, tanpa kita sadari sebenarnya kita malah bikin kesalahan, ya rasa TAKUT  itu. Huh payah lah kita
contoh nih yah, hari ini adalah hari pertama gue masuk kuliah di semester 2. Tadi pas mata kuliah AKUNTANSI, sang Dosen bertanya tentang “apa yang dimaksud dengan perusahaan dagang?” dua teman gue udah jawab. Nah dari jawaban mereka si Dosen minta 1 orang untuk gabungin menjadi jawaban yang utuh. Karena jawaban dua orang teman gue itu udah bener tapi sayangnya masih kurang lengkap satu sama lain.
Saya Bu! “perusahaan yang memebeli suatu barang untuk dijual kembali. Tanpa merubah bentuk awal barang itu”, itu suara pikiran gue! Yap gue ga berani bersuara. Seisi kelas sepi pas si Dosen nannya siapa yang mau jawab. KLASIK BANGET KAN, SELALU BEGITU.
Jantung gue deg-degan pengen banget ngangkat tangan trus ngejawab, tapi takut dipikir sok pintar. Sebenarnya sih itu alesan kedua, alesan pertamanya “KALO SALAH GIMANA?” MALUNYAAAAA ITU LOH!
Si Dosen nambahain lagi, saya kasih poin loh. Bener deh tangan ama mulut pengen banget bergerak tapi ngebayangin kalo nanti si Dosen bilang ‘SALAH’ oh baby baby one more time, PASTI BERJUTA RASANYA. Nyesel udah so pahlawan jawab, ngutuk diri sendiri, salting, ngerasa semua mata di kelas ngeliatin kita dll.
And you know what, setelah si Dosen udah ngiming-ngiming penambahain poin masih aja ga ada yang mau ngangkat tangan akhirnya dia ngejawab sendiri pertanyaannya
“perusahaan dagang itu perusahaan yang membeli barang dan menjualnya kembali tanpa merubah bentuk barang tersebut.”
KAMPRET! SIYAL! TADI KAN GUE MAU JAWAB KAYA GITU! AAAAAAHHHHHH! 10 POIN GUE!!!!!!! HARUSNYA GUE JAWAB HARUSNYA GUE JAWAB!!
****
OKE GUE TAU TEMAN, KALIAN YANG TAK SENGAJA BACA TULISAN BLOG GUE INI PASTI PERNAH MERASAKN APA YANG PERNAH GUE RASAKAN TADI. BUKAN CUMA SEKALI. PASTI SERING. DARI SD, SMP, SMA. SELALU BEGITU!
KITA TAKUT JAWABAN KITA SALAH. DAN PAS KITA TAU KALO JAWABAN YANG TADI HANYA MAMPU BERSUARA DALAM KEPALA, BETAPA GREGETANNYA KITA. SEHARUSNYA KITA BISA TAMPIL MENAWAN DI DEPAN TEMAN-TEMAN KITA, TAPI KITA MELEWATKANYA BEGITU SAJA DI KARENAKAN “TAKUT SALAH” NYA KITA.
Gue yakin, pas di kelas gue tadi sebenarnya bukan gue aja yang pengen ngejawab pertanyaan itu. Pertanyaan itu sebenarnya bukan pertnyaan yang terlalu sulit untuk dijawab. Ditambah udah terlebih dahulu ada 2 jawaban, tugas kita hanya menggabungkan 2 jawaban itu. Anak SD pun sebenarnya ga harus mikir ampe 15 mnt untuk ngejawab. Pasti ada juga orang di kelas yang ngalamin apa yang gue alamin tadi.
Deg-degan waktu kita berusaha untuk menjawab pertnyaan itu, sama penyesalan tidak menjawabnya. Nyesekan pas bagian penyesalannya. IYA GA?
Pernah gue denger di radio, penyiarnya mengutip perkataan orang Amerika yang terkenal tapi gue lupa siapa namanyaa, gini katanya “YANG HARUS KITA TAKUTI DI DUNIA INI ADALAH RASA TAKUT ITU”
Iya kita ga mau bikin salah. Tapi malah ketakutan kita ‘ga mau bikin salah’ itu yang udah bikin kita salah.
SEBENARNYA APA SIH YANG HARUS KITA TAKUTIN DARI KATA “SALAH” BUKANNYA KATA ORANG BIJAK KITA BELAJAR DARI KESALAHAN. SEPANJANG PERJALANAN PULANG TADI GUE TERUS MIKIR. KALO TADI GUE JAWAB DAN SALAH, KENAPA JUGA?
  • GUE SALAH, TAPI GUE BERANI NGEJAWAB.
  • GUE SALAH, DAN PADA AKHIRNYA GUE TAU JAWABAN YANG BENAR SETELAH KESALAHAN ITU.
  • GUE SALAH, LANGIT GA AKAN RUNTUH KAN?
  • GUE SALAH, GA KAN BIKIN GUE MATI DI TEMPAT.
Kebiasaaan manusia adalah, lebih suka membayangkan sesuatu yang buruk-buruk ketimbang yang indah. Lebih suka memikirkan hasil yang nantinya jelek daripada hasil yang menyenangkan. Itu yang gue lakuin dan gue berani taruhan hampir 4 dari 2 temen gue juga pasti sama kaya gitu. COBA AYO, KITA COBA BERPIKIR SEBALIKNYA
  • KITA SALAH, BERARTI KEPINTARAN KITA BERTAMBAH. “manusia belajar dari kesalahan’
  • KITA SALAH, YANG DOSEN MAU KITA NGEJAWAB. DIA GA BILANG KAN TADI. SIAPA YANG MAU JAWAB DAN HARUS BENAR?
  • KITA SALAH, PERTANDA BESOK JAWAB GA BOLEH SALAH LAGI!
  • KITA SALAH, MALU? MALUAN JUGA MEREKA YANG MAU JAWAB TAPI UDAH KEDULUAN KITA.
  • KITA SALAH, HAHAHAHAHHAHAHA SIAPA PEDULI! SATU KESALAHAN GA KAN BISA MENUTUPI SEPULUH KEBERANIAN KITA. 
***
ayo, kalian yang lagi ga sengaja baca ini
NO MORE TAKUT!
AKU AKAN LEBIH BERANI MENGHADAPI KESALAHAN, DAN MENGAMBIL ALIH KESUKSESANKU!
GA ADA ORANG SUKSES YANG TAKUT!
GADA ORANG SUKSES YANG GA MENGALAMI KEGAGALAN!
KETAKUTAN AWAL DARI KEGALAGALAN!
SAY NO TO TAKUT!
I’LL BE BRAVE DEMI POIN TAMBAHAN, DEMI MENYENANGKAN HATI GURU/DOSEN YANG BERTANYA, DEMI ORANG TUA KITA YANG UDAH BAYAR MAHAL SEKOLAH KITA, DEMI SOEKARNO, DEMI LOVATO.
KALO KATA BARRY LIKUMAHUWA, “KARENA PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI KITA.”
DAN KALO KATA SANG PENULIS BLOG, “SEBELUM KITA BERMIMPI MERUBAH DUNIA, BERPIKIRLAH UNTUK MERUBAH DIRI KITA.” :)

Jumat, 04 Februari 2011

TERGIUR 'JALAN PINTAS'

Televisi menawarkan banyak acara untuk merekrut bakat-bakat baru. Iming-iming hadiah besar ditambah popularitas yang sudah menanti di depan mata, menjadi magnet kuat yang menarik hati siapa saja. Termasuk mahasiswa. Ada apa dengan mahasiswa yang kini lebih bangga meniti karier instan di dunia industri hiburan yang kadang hanya seumur jagung? kemana perginya agent of change yang "berjanji" memberi perubahan positif bagi bangsa dan negara? (pertanyaan)
And the answer is...
Tergiur  jalan pintas
Hey, ini tahun 2011! Tahun yang makin modern. Bahkan di jaman dulu pun orang udah tergiur kalau dengar “jalan pintas” apalagi jaman sekarang ini. Apalagi anak muda, mahasiswa mahasiswi contohnya. Dalam pikiran kami, anak-anak muda, ‘kalo ada jalan pintas kenapa harus milih jalan yang susah?’. Ditambah lagi ada iming-iming hadiah besar, popularitas, dan lain-lain, siapa yang nolak?. Jaman makin susah, tawaran-tawaran jalan pintas seperti itu menjadi kesenangan tersendiri bagi kami anak muda.
Kalau ditanya “ada apa dengan mahasiswa yang kini lebih bangga meniti karier instan di industri hiburan yang kadang hanya seumur jagung?” engga ada apa-apa. Siapa coba yang ga bangga punya karier di industri hiburan, industri yang begitu memikat hati, banyak duit, dan dikenal orang banyak.
Soal ‘umur jagung’, ketika kami para anak muda memutuskan untuk lewat jalan pintas kami tahu bahwa segala sesuatu yang kami dapat nantinya dari jalan pintas tersebut tidak akan bertahan lama, hanya sementara. Kami tidak mungkin lupa akan hukum alam, segala sesuatu yang didapat dengan mudah akan pergi dengan mudah dan sebaliknya.
Seorang mahasiswa/i tahu, ketika dia ikut audisi pemilihan penyanyi berbakat, dan dia berhasil masuk sebagai finalis orang-orang hanya akan mengingatnya selama acara itu ada, acara itu selesai, selesai juga lah nama Ia berkibar dimana-mana.
Seperti yang di awal saya bilang, jalan pintas menjadi kesenangan tersendiri. Penasaran untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi bintang dan memilih jalan pintas. Tapi tetap bagi kami, memberikan perubahan positif bagi bangsa bukan sebuah kesenangan tapi keharusan.
Walaupun kami anak muda jaman sekarang, mahasiswa-mahasiswi suka dengan kata ‘jalan pintas’, menjadikan bangsa kami lebih baik tidak bisa dengan jalan pintas, kami akan  mengambil jalan dimana kami anak muda bisa berjalan bersama-sama dan membuktikan kami bukan cuma anak muda penggila popularitas tapi juga penggila kemajuan. :)


... this is just my opinion about "tergiur jalan pintas".

Proses Pembelian

Proses Pembelian

Ø Menganalisis keinginan dan kebutuhan
Dalam proses pembelian pertama-tama yang harus kita lakukan tentu menganalisis apa yang kita inginkan atau apa yang kita butuhkan. Want and need. Keinginan dan kebutuhan adalah dua hal berbeda. Keinginan lebih kepada hasrat akan sesuatu sedangkan kebutuhan lebih kepada sesuatu yang harus segera dipenuhi.
Contoh: Barry sedang berada di Gramedia. Ia ingin sekali membeli novel Danielle Steel yang terbaru. Ia juga ingin membeli buku Dasar-Dasar Pemasaran untuk bahan pembuatan tugas makalah yang diberikan dosennya. Berhubung uang yang Barry punya hanya cukup untuk membeli satu buku Ia memilih untuk membeli buku Dasar-Dasar Pemasaran ketimbang membeli novel pengarang favoritnya Danielle Steel. Hal itu dikarenakan Barry butuh buku Dasar-Dasar Pemasaran itu untuk mengerjakan tugas kuliahnya, sedangkan novel apabila Ia tidak membelinya tidak ada dampak masalah untuknya lain halnya dengan buku Dasar-Dasar Pemasaran karna tanpa itu Barry tidak bisa mengerjakan tugas kuliahnya. Seorang konsumen harus lebih memprioritaskan apa yang lebih Ia butuhkan sekarang dan apa yang bisa ditunda atau tidak terlalu dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan pembelian.

Ø Menilai beberapa sumber
Dalam proses pembelian para konsumen tentu akan mencari tahu informasi-informasi mengenai produk yang akan mereka beli. Konsumen dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber. Misalkan, keluarga, teman, tetangga, pacar, atau juga dari sumber-sumber  komersial seperti iklan, situs web, dan juga sumber dari orang-orang yang telah terlebih dahulu mengkonsumsi produk tersebut.
Contoh: di Gramedia Barry telah memutuskan untuk membeli buku Dasar-Dasar Pemasaran. Yang harus Ia putuskan selanjutnya adalah buku dengan pengarang siapa yang harus Ia beli. Ia mencoba browsing di Google melalui handphonenya untuk mencari informasi mengenai nama pengarang buku Dasar-Dasar Pemasaran yang mana yang bagus. Setelah dapat beberapa nama, Barry mencoba bertanya kepada karyawan Gramedia sebagai refrensi untuk lebih meyakinkan dirinya. Buku mana yang laris atau sering dibeli orang dan isinya bagus dan juga lengkap. Karena biasanya karyawan-karyawan Gramedia cukup tahu menahu mengenai buku-buku yang ada disana.

Ø Menetapkan tujuan pembelian
Dalam proses pengambilan keputusan pembelian, konsumen tentu akan mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri “untuk apa saya membeli produk tersebut?”. Suatu proses pembelian terjadi tentu karena ada tujuan, tujuan konsumen yang ingin memenuhi kebutuhannya. Dalam tahap ini konsumen akan lebih mencari tahu manfaat apa dari produk yang akan Ia beli, sesuaikah dengan apa yang Ia butuhkan saat itu.
Contoh: Barry membeli buku Dasar-Dasar Pemasaran untuk keperluan tugas kuliahnya yaitu membuat makalah Dasar Pemasaran.

Ø  Melakukan kegiatan identifikasi
Melakukan pembelian dengan cara bagaimana, kredit atau tunai, via transfer atau langsung, menggunakan credit card atau wessel tagih dll.
Contoh: Berhubung di Gramedia tidak melayani pembelian kredit, maka Barry akan membawar secara tunai buku yang akan Ia beli.


Ø Mengambil Keputusan
Disinilah akhirnya keputusan ditetapkan, produk apa yang akhirnya akan dibeli, dengan merk apa, dan memutuskan akan melakukan pembayaran secara kredit atau tunai.
Contoh: Akhirnya, Barry menuju kasir dengan menggenggam 1 buah buku “Dasar-Dasar Pemasaran” pengarang: “Philip Kotler”, pilihan Barry jatuh pada buku tersebut. Ia membayar buku tersebut dengan uang seratus ribu dari dompetnya. Ia melakukan pembelian secara tunai.


Ø Perilaku Sesudah Pembelian
Setelah melakukan pembelian konsumen tentu akan merespon atau memberikan feedback terhadap produk tersebut, seperti keluhan atau pujian yang menandakan kepuasan terhadap produk tersebut.
Contoh: Sesampainya dirumah, Barry langsung membuka buku “Dasar-Dasar Pemasaran” tersebut dan mengerjakan tugas makalahnya. Barry senang karena apa yang Ia butuhkan dalam mengerjakan makalahnya ada semua dibuku itu, semua lengkap, terdapat contoh dan juga ringkasan-ringkasan pembelajaran dalam buku tersebut sehingga mempermudah pembaca dalam memahaminya. Barry merasa tidak sia-sia Ia membeli buku tersebut karena sangant bermanfaat untuknya sekarang dan nanti ketika tugas-tugas selanjutnya bedatangan.

 

(c)2009 Dian Mahardika. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger