akhir-akhir ini gue lagi ngerasa
aneh sama beberapa temen dekat gue dikampus. okeh bukan sekedar teman dekat.
gue biasa manggil mereka sahabat. iya sahabat.
berawal dari kedekatan kita
dikelas satu. ga dekat-dekat juga sih mungkin karena sering jalan bareng. atau
mungkin emang dekat.
atau mungkin juga sebuah
takdir.
kalau diinget-inget lagi. kita
semua sama-sama duduk dibarisan sebelah kiri dari depan meja dosen di hari
pertama masuk kuliah. mungkin itu sebuah kebetulan atau mungkin emang itu salah
satu bagian pembuka cerita kebersamaan kami di dalam Buku Rencana Tuhan.
well.. 1 tahun 6 bulan
berlalu..
kita berpisah. berpisah kelas.
kelas dua.. teman baru. kelas
baru. dosen baru. mungkin juga sahabat baru.
ga ada lagi wanita penghuni
bangku belakang.
ga ada lagi pemandangan
punggung pria-pria menyebalkan itu.
semuanya sudah dipersiapkan.
mulai dari rasa kehilangan sampai tanpa rasa. yah bersiap untuk hal terburuk.
seseorang yang dulu pernah dekat dengan kita bisa menjadi seseorang yang asing
ketika waktu dan jarak mulai mengambil alih.
namun 6 bulan kita berjalan
lancar. sangat lancar malah menurut gue. banyak hal terjadi di 6 bulan pertama
perpisahan 1 ruang kita. banyak!
bukan berarti ketika kelas 1
sedikit hal yang terjadi. tapi karena masih bersatu dalam dinding kelas yang
sama kita menganggapnya sebagai sesuatu yang kecil dan biasa, namun ketika
perpisahan itu datang ketika kita bisa berkumpul bersama, membuat kenangan
baru, berbagi tawa, tangis, cerita, itu menjadi sesuatu hal yang besar. indah.
mungkin itu kata yang pas. yang pas untuk gue rasain. entah dengan mereka.
puncak, barbeque, pulang malam,
nonton bola, kunjungan kerumah, pertemuan seminggu sekali, ulang tahun, blok S,
mie ayam gunung mas, wedang, DPR, gajebo, pecel ayam kampus G, nastel, …
gue suka! gue suka semua yang
terjadi di 6 bulan pertama kita berpisah. rasa sayang sekedar teman sekelas
telah berubah menjadi rasa sayang tak ingin berakhir..
lembar yang baru
kurang lebih sekitar 2 bulan
yang lalu 6 bulan kedua perpisahan kita dimulai.
gue pikir 6 bulan ini akan
lebih baik lagi. lebih seruuuuuuuuuuuuuu bahasa anak sekarang bilang. iya gue
pikir.
when people use 'i though',
there's something wrong with the fact.
kita mengalami kemunduran.
inilah 6 bulan kedua kita. aku
dan mereka.
minggu pertama.
hari senin. satu yang gue ingat
tentang hari ini yaitu 2 jam yang gue habiskan bersama Alfian di DPR. rencana awal
dia ngantar gue sampai stasiun. pas udah nyampai stasiun, sepertu biasa, Alfian
selalu bisa baca gerak-gerik, tingkah laku, bahkan kadang pikiran atau perasaan
gue. saat itu suasana hati dan keadaan gue emang lagi butuh seseorang untuk
berbagi.
entah perbincangan atau
pertengkaran macam apa yang terjadi waktu itu. lupa. yang gue ingat motor beat
hitam balik lagi ke kampus. masih dengan 2 orang yang sama. ga berkurang satu.
seharusnya Alfian lagi main pees
sama Aldi dan Sule. mereka janji untuk main. tapi dia tetap disana. duduk
disamping gue. dengan tahu jeletot ditangan. ketawanya yang kencang. perbincangan-perbincangan
dari yang topik paling bermutu sampai ga bermutu. dari hal yang seharusnya ga
dibahas jadi dibahas. hari itu, rasa sayang terhadap sahabat ini bertambah ke
dia. “i love you pipi, dokter cintakuh,
and my best guyfriend!” kalo ga salah itu isi sms yang gue kirim ke dia
malamnya. yah. my best guyfriend.
hari rabu. pagi dimana gue
minta berangkat bareng Aldi dari stasiun pocin. karena jadwal masuk kita yang
kebetulan sama.
dia telat bangun. bukan hal aneh
yang patut dikagetkan. dia nyuruh gue untuk duluan. bukannya nurut sifat ngeyel
gue milih untuk tetap nungguin dia. ditempat biasa gue selalu nunggu dia.
gue rasa cuma itu satu-satunya
cara bikin dia kapok bangun siang. kalo lagi-lagi setiap kesiangan dia nyuruh
gue untuk jalan duluan dia bakal tetap begitu terus. kalo gue nunggu dia setidaknya
dia bakal mikir gara-gara dia bangun siang satu orang juga ikutan telat. dan
dia jadi lebih telat lagi karena harus belok ke Pocin. ga boleh. tekad gue udah
bulat pagi itu. gue gamau punya supir seorang kebo. dia harus dikasih pelajaran.
pintu keluar utama UI ditutup
karena ada acara yang-entah-apa. yang mengakibatkan gue dan Aldi harus putar
jalan yang benar muter-muter.
pelajaran untuk Aldi
benar-benar datang. pelajaran untuk ga lagi-lagi ngangkut gue dari Pocin.
sepanjang perjalanan apa lagi
yang terjadi kalo ga adu bacot dan saling menyalahkan. satu lagi hal
menyebalkan datang. gue harus melanjutkan perjalanan ke kampus dengan naik
angkot karena ternyata jalan putar yang dilaluin ada polisinya. dia nuruninin
yang sampai sekarang gue sebut tempat antah-berantah.
..arti mommy call..
“lo dimana? he? jadi lo ninggalin gue???”
“KAN TADI ELO YANG NYURUH GUE NAEK ANGKOT SETAN!”
tadinya itu benar-benar bakal
keluar dari mulut andaikan kondisi angkot yang gue tumpangin sepi. tapi demi pencitraan
sebagai cewek manis dikhayalak orang banyak yang keluar akhirnya “kan tadi kata lu gue naik angkot aja hehe”
sampai dikampus dia dan
motornya lewat menuju parkiran. andaikan ga ingat hp cuma satu ditangan dan
kondisi keuangan yang gakan memungkinkan beli hp baru, pasti dengan senang hati
nokia 6300 melayang ke helm-nya. apa daya..
gue memutuskan untuk mengkespresikan
emosi dengan ngegerakin tangan seolah-olah mau mukul orang ke arah dia dan
motornya lagi jalan. ada satu yang lupa. saat itu posisi gue lagi berjalan
ngelewatin deretan cowok-cowok yang duduk didepan gedung. emosi terlampiaskan malupun
didapat.
1 cerita lagi bertambah
dengannya hari itu. si sahabat oon merangkap supir kebo. dan sekarang menjadi sebuah
kenangan yang memunculkan senyuman kecil ketika diingat kembali.
dua hal itu yang berkesan dan
selalu teringat sama gue sampai sekarang dari minggu pertama.
minggu kedua.
hari senin. surprise party
untuk Alfian. ga bisa dibilang party juga sih sebenarnya. mungkin lebih
tepatnya surprise gift.
gue senang. semua rencana
berjalan lancar. kado tersampaikan dengan selamat ditangan Alfian tanpa cacat
terlebih dahulu ditangan gue yang kalo kata Aldi si destroyer. dia benar-benar
ga menduga akan apa yang kita lakuin ke dia hari itu.
dua hari sebelumnya kita juga
bikin hal yang sama ke Tiwi. kita datang ke rumahnya pas hari ulang tahunnya
sabtu.
minggu kedua cuma itu yang
berkesan menurut gue. ulang tahun kedua sahabat gue. mereka sekarang jadi
sahabat sebaya untuk gue. senang. jelas. ga lama disusul oleh Fandy tanggal 11.
bulan maret jadi bulan penuh kesenangan untuk gue. saat itu gue berpikir
seperti itu.
minggu ketiga.
rabu. Aldi dan Alfian manggung.
Mira ga bisa ikutan nonton karena dia pulang kuliah awal dan dia ga ada teman
untuk nungguin sampai jam 4. sebentar. gue baru ingat. ada hal lucu yang
terjadi dihari ini. pagi harinya. engga-engga. tepatnya subuh harinya. Aldi sms
gue sekitar jam 5. entah kurang atau lebih atau tepat. tapi gue yakin dengan
jelas itu subuh.
mungkin bagi mereka yang ga
kenal Aldi bakal nanya “apa yang wow dari Aldi sms jam 5 subuh?”
tapi beda cerita bagi orang-orang
yang pernah nelpon, bangunin, sms, dia jam segitu dan baru dapet tanggepan jam
7 pagi. lewat bahkan.
di salah satu smsnya dia dengan
bangga pamer “hahahah iya dong im not kebo anymore.. :p ternyata
enak juga yah bangun pagi. okeh liat besok!” satu lagi yang akhirnya baru gue ingat. iya. dia
nantangin mau ngebuktiin kalo dia bisa bangun pagi terus-terusan.
kenyataan selalu ga sejalan
sama apa yang diketik.
kembali ke rabu siangnya. singkat
cerita. mereka batal manggung. salah tanggal. gue ngetawain. photo studio. gue nungguin
mereka. jam6. pulang. makan. dan seperti biasa. Alfian. dia selalu memastikan gue
sampai dengan selamat di depan pagar.
ada satu hal yang selalu gue
ingat saat gue bersama mereka dan 2 personil bandnya hari itu. ketika salah
satu dari 2 itu yang bernama Praday nanya tentang Mira. dia lagi nyari cewek. dan
gue lupa kenapa saat itu tiba-tiba dia bisa nanya Mira. Aldi dan Alfian pun
beraksi. “cantik, baik, putih, blablabla” gue ga ingat pasti terusannya dan
penjelasan lainnya yang mereka kasih tentang Mira. semuanya bagus. cuma itu
yang gue ingat pasti.
saat itu dikepala gue muncul adegan
ketika gue dan Mira sibuk dengan pertanyaan apa kelebihan kita. well Mira my
best friend in crime, u have got it.
andaikan saat itu waktu mutar
lambat pasti akan keliatan kalau gue ngeliatain mata Aldi dan Alfian
dalam-dalam sambil ngajuin sebuah pertanyaan “kalau yang mereka tanya gue apa
lo berdua juga bakal jawab kaya gini” dalam hati.
minggu keempat.
gue lupa apa aja yang terjadi
diminggu keempat ini bersama mereka. mungkin ga ada kejadian. iya seperti
begitu.
minggu kelima.
minggu awal kesedihan. gatau
kenapa gue ngetik gitu. rasanya benar diminggu ini air mata gue kekuras karena
mereka. ga kekuras juga. itu berlebihan. tapi mungkin benar.
hari selasa. pulang kuliah
lebih awal. pagi malah menurut jam gue. setdua.
ga tau harus kemana. hari itu
ga ada jadwal untuk main bersama teman sekelas. mereka semua pulang.
gue ngeliat Alfian lewat naik
motor. setidaknya itu tanda kalau dia lagi ga ada kelas. dan tanda lagi kalau
dia lagi ada urusan ke suatu tempat.
nelpon sambil berharap semoga
aja dia mau balik arah dan nemenin gue sampai mood untuk pulang ke rumah
muncul.
“gue lagi mau ke kostan Hadi”
“oh yaudah.. hati-hati”
dibalik kata gapapa ada
apa-apa. dibalik kata yaudah ada kekecewaan.
memutuskan untuk tetap dikampus
tanpa rencana apa yang harus dilakukan dan teman. penyelamat datang. sms
tagihan bayar pulsa mengakhiri kesepian gue. punya beberapa teman menunggu. kelas
233. kalau ga salah. sambil nunggu sore gue smsan sama Tiwi.
sekedar info. gue dan Tiwi ga
pernah absen smsan. hampir setiap hari.
hampir berarti pernah absen
deh. dan dalam sehari hampir seharian. kalau lagi asik. dan ada pembahasan
bagus. jadi ingat sebelum hari selasa ini ada pembahasan seru yang terjadi
antara gue dan Tiwi.
biasanya isi sms gue dengan
Tiwi ga jauh dari aksi pamer-pameran. cerita kejadian yang baru aja terjadi.
contohnya gue yang langsung sms dia ketika pulpen gue jatuh dan nyadarin gue dari aksi
tidur dengan gaya fokus merhatiin dosen. atau ketika dosen TEKO nyuruh gue
ngerjain soal yang hampir satu kelas ga ngerti. atau contoh dari Tiwi sms gue dengan
bangganya setelah berhasil merasakan untuk pertama kalinya buang hajat di kamar
mandi kampus. sms dia pamer lagi duduk dipaling depan.
mulai dari hal kecil ke besar. ga
penting ke ga penting banget. selalu kita bagi lewat sms.
sabtu ketika praktek gue bawa
kabar ke Tiwi kalau pacar kesayangannya dapat max.
dia bawa kabar kalau duo oonnya
mau dikeluarin dari kelompok belajarnya karena jarang masuk.
“lo bilang dong wi ke mereka, sahabat gue itu musisi men”
mendadak sedikit emosi kepancing.
naluri gue sebagai kakak tertua yang ingin melindungi ade-adenya keluar
seketika tanpa diundang. sial.
seninnya Tiwi lagi-lagi bawa
kabar mengejutkan. Aldi bolos. padahal setau gue hari itu mereka kuis. Tiwi ga
tau kenapa. gue lebih gatau lagi.
ada hal lucu lagi pas hari
senin itu. hari dimana Aldi bolos. keluar dari mesjid gue dan Tiwi ketemu sama
salah satu sohibnya Aldi dikelas. Ryan. disitu kita intograsi dia. dia cuma bilang
“tadi gue sms Aldi nanya dosen
udah masuk belum eh dia bales dia ga masuk”.
setelahnya terjadi perbincangan
kecil yang selalu bikin gue nyengir kecil tiap ngingat.
sebentar gue lupa si Ryan
manggil Aldi apa.
“Aldi/Kemal emang kenapa sih dia jarang masuk?”
“dia itu musisi men” gue dan Tiwi.
ga lupa ketawanya habis selesai
ngucapin kalimat itu.
iya. aneh. ga tau. jangan tanya.
gue sama Tiwi emang selalu ketawa tiap ngucapin kalimat itu. bukan ketawa
ngeledekin Aldi tapi ada kesenangan tersendiri ketika ngucapin itu ke orang. Gue
dan Tiwi ngakak.
malamnya gue dan Tiwi lanjut
sms lapor-laporan. Gue lapor baru aja sms Aldi dan balesanya “gapapa ko dika”. lupa. waktu itu smsnya
pake emot smile atau ga.
Tiwi juga dapat jawaban serupa
via bm. akhirnya disms gue sama dia maen tebak-tebak buah manggis dan
salah-salahan.
“gara-gara lo wi! baweeel.. segala sih ngadu-ngadu ke dia kalau dia mau
dikeluarin dari kelompoknya jadi terpuruk kan dia.”
“masa cuma gitu doang sih”
setelah smsan berkali-kali
pembagian tugas terjadi. gue sms Aldi lagi untuk ngingetin dia besok masuk dan
rajin kuliah. Tiwi ingatin tugas via bm.
sebelum tidur gue baca lagi isi
inbox. nemuin hari itu hampir semuanya penuh oleh Tiwi. dan malam itu gue tidur
dengan senyum.
kembali ke hari selasa. mengingat
gue belum dapat penjelasan yang masuk di akal atas kebolosan Aldi di hari senin
dan sifat kepo gue yang tak terelakan maka gue memutuskan untuk menetap sampai
jam set6 dikampus. nunggu Aldi pulang. nebeng.
ketika gue minta nebeng ke salah
satu dari mereka itu bukan sekedar permintaan antar atau sesuatu hal yang gue
lakuin untuk menguntungkan kondisi kantong. bukan. bukan hanya untuk itu. ada
sebuah keinginan kebersamaan disana. menghabiskan waktu bersama. mengecek
keadaan. bertukar cerita. meskipun sebentar dan dalam hitungan menit. tapi cuma
dengan cara itu gue bisa nanya kabar mereka atau ngejaga hubungan agar tetap
terasa dekat.
baru-baru ini Alfian ngasih tau
gue sesuatu.
"sebenarnya waktu gue nganterin lo pulang itu bukan cuma ngenterin
tapi ada maksudnya" gue langsung jawab "iya Alfian gue tau ko"
“karena begitu juga gue
ketika sms lo dan Aldi dengan permohonan "nebeng yah". itu tanda
kangen. tanda sebuah permohonan cerita baru antar sahabat." sambung
gue dalam hati. bukan cuma ke Aldi Alfian. gue juga ngelakuin hal itu ke Mira
ketika gue minta pulang bareng. juga ke yang lainnya.
gue emang berniat minta dianter
pulang sama dia sampai Citayam. waktu itu alesan gue ga punya ongkos. tepatnya
gamau ngeluarin duit untuk ongkos. but it's a little lie. bukan soal ongkos gue
nebeng ke dia. bukan karena ga mau ngeluarin duit sebesar 10500 gue sampai mau
nunggu 3jam.
pertanyaan kenapa dia senin ga
masuk. gimana rasanya satu panggung sm GBS. gimana bisa kenal sama Ratu Dewi. gimana
perasaan dapat kabar mau dikeluarain sama si Toni Toni itu. itu yang bikin gue
bertahan nunggu 3jam.
kesalahan terjadi. sebelum
mengajukan permintaan nebeng satu pertanyaan penting terlupakan. apakah hari
itu dia ada latihan band.
band adalah prioritas utama
dalam kehidupannya.
"yaudah turunin gue aja Di kalau emang bener-bener gabisa. gapapa ko"
kalimat itu keluar dari mulut gue.
setelah sebelumnya triak-triak
ngancem nangis kalau dia nurunin.
tapi ternyata itu bukan ancaman
semata. tanpa sadar gue ngelakuinnya. diam-diam. tanpa sepengetahuan si orang
yang saat itu cuma berjarak beberapa cm didepan
gue.
ketika akhirnya gue turun dan
ga lagi dalam posisi duduk. ketika tos-an perpisahan selesai. ketika ngebalik
badan. ketika dengan reflek tangan naikin posisi masker sedikit keatas berhenti
pas dibawah mata. ketika air itu turun. gue sadar. Aldi.. ini kedua kalinya.
itu jadi kedua kalinya Aldi
bikin gue nangis.
sabtu. hari seharusnya gue ga
boleh nangis. tapi senang. atau setidaknya pamer senyum yang suka nongolin
gigi.
kenyataan lagi-lagi milih untuk
berkata lain.
hari itu hari surprise gift
untuk Fandy. kita semua ke rumah fandy. except Edy dan Tiwi. berarti ga
semuanya.
hari itu juga jadi hari yang
benar-benar menyedihkan untuk gue. sepanjang perjalanan pulang dari rumah Fandy
gue ga brenti-brentinya nangis dibalik masker dan helm yang nutupin penuh muka
gue malam itu. sayangnya ga ada satupun dari mereka yang sadar. kalau gue lagi
butuh seorang sahabat berbagi.
itu untuk pertama kalinya gue
ngerasain apa yang dibilang orang “rasanya
tuh sakit banget ketika sahabat lo ketawa sedangkan lo lagi nangis.”
bukan sweater Aldi ataupun Sule
yang nganter gue pulang yang gue butuhin malam itu. dinginnya malam ga
sebanding sama dinginnya didalam. gue butuh sahabat untuk berbagi. bukan Sule
yang jujur, sampai detik ini gue masih ngerasa asing setelah kepergiannya 3
bulan sebelumnya.
continue